LEMBAGA PERS MAHASISWA

LPM ALIF

STAI Al-Hamidiyah Bangkalan


Kenangan Senja di Halaman Kampus Tua

Cerpen Hayyul Mb

Sore itu, di halaman kampus Stamidiya Bangkalan, langit menjelma palet warna yang memikat. Senja, dengan lembut, mulai menyihir warna-warna cerah menjadi nuansa cinta yang menenangkan. Di tengah perhelatan itu, sekelompok mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam berkumpul, siap terhanyut dalam diskusi yang dijanjikan akan menyentuh jiwa.

Rizal, si pembicara, berdiri di bawah rindangnya pohon mangga, dengan wajah yang penuh semangat. “Selamat sore, teman-teman!” sapa Rizal, suaranya mengalun seperti irama lembut yang membelai telinga.

“Selamat sore, Rizal!” sahut Nur, ketua Lembaga Pers Mahasiswa, matanya berkilau dengan antusiasme. “Kami sangat menunggu pemikiranmu!”

Amelia, duduk di deretan depan dengan notebook di tangan, menatap Rizal penuh harap. Dalam hati, ia bertanya, Apakah diskusi kali ini akan memberikan pencerahan yang kucari?

Rizal melanjutkan, “Hari ini, kita akan membahas Filosofi Teras, sebuah pemikiran yang mengajak kita untuk menengok ke dalam diri dan merenungkan nilai-nilai yang sering terabaikan.”

“Seperti apa itu, Rizal?” tanya Rina, salah satu mahasiswa, penuh rasa ingin tahu. “Filosofi Teras,” jawab Rizal dengan tegas, “adalah tentang menciptakan ruang dalam diri kita untuk menemukan makna hidup. Ia mengajak kita untuk bersikap bijak dan menyatu dengan lingkungan.”

Amelia merasa tergetar oleh kata-katanya. “Bagaimana kita bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari?” tanyanya, suaranya bergetar lembut. "Dengan cara mendengarkan satu sama lain, Amelia,” Rizal menjawab. “Kita perlu memahami dan menghargai cerita-cerita yang ada di sekitar kita. Setiap individu membawa kisah yang layak untuk didengar.” “Jadi, ini tentang cinta dan kepedulian?” tanya Nur, menyambung.

“Betul sekali, Nur. Tanpa cinta, kita hanya akan menjadi entitas yang terasing,” Rizal menjawab, wajahnya bersinar oleh keyakinan.

Diskusi pun mengalir dengan semangat. Setiap mahasiswa, kini berani berbicara, berbagi pendapat dan pengalaman. Suasana semakin hangat, seolah senja yang memancarkan kehangatan tak hanya dari warna, tetapi juga dari hati yang saling terbuka.

Saat bintang-bintang mulai bermunculan, Rizal menatap langit, seakan mencari jawaban di antara gemerlapnya. “Mari kita renungkan,” katanya, “bahwa setiap langkah yang kita ambil haruslah penuh cinta. Cinta yang membebaskan kita dari egoisme dan kesepian.”

Amelia, terpesona oleh kata-kata itu, merasa hatinya bergetar. “Rizal, bagaimana kita bisa menjadi agen perubahan di kampus ini?”

“Mulailah dari diri kita sendiri. Ciptakan ruang untuk diskusi, untuk berbagi, dan jangan pernah lelah mendengarkan,” jawab Rizal.

Malam semakin pekat, dan Nur menutup diskusi dengan harapan, “Semoga kita bisa menerapkan Filosofi Teras ini dalam langkah-langkah kita selanjutnya. Mari menjadi penerus cinta dan kebijaksanaan.”

Ketika mereka beranjak pulang, senja yang indah itu perlahan menghilang, menyisakan kenangan yang mendalam di hati mereka. Setiap langkah terasa penuh makna, setiap tawa seakan menggema dalam kesunyian malam.

Di bawah langit yang berbintang, Amelia melangkah dengan ringan, merasakan kerinduan yang lahir dari diskusi penuh cinta itu. Kenangan senja di halaman kampus kini terpatri dalam ingatannya, membentuk janji untuk terus menghidupkan semangat Filosofi Teras, menjadi cahaya yang menerangi jalan bagi dirinya dan orang-orang di sekelilingnya.Di tengah kerinduan itu, Amelia teringat akan potongan-potongan diskusi yang menggugah hatinya. “Cinta yang membebaskan kita dari egoisme dan kesepian,” ucap Rizal. Kata-kata itu bagaikan mantra yang membimbingnya, mengingatkannya akan tanggung jawab yang kini ada di pundaknya.

“Amelia!” suara Nur memanggil dari belakang, menghentikan langkahnya. “Kau ke mana?”

“Ke perpustakaan,” jawab Amelia, senyumnya merekah. “Aku ingin membaca lebih banyak tentang Filosofi Teras. Rasanya, aku butuh mendalami ini lebih jauh.”

“Bagus! Aku ikut!” Nur menjawab, langkahnya cepat menghampiri. “Ada banyak buku yang bisa kita gali. Mungkin kita bisa membuat artikel tentang diskusi kita hari ini untuk LPM.”

Amelia setuju. “Kita bisa mengajak teman-teman lain untuk berkontribusi. Menghimpun ide-ide mereka juga penting.”

Malam semakin larut, tetapi semangat mereka tak kunjung pudar. Mereka memasuki perpustakaan yang sunyi, dikelilingi rak-rak buku yang seolah menunggu untuk dibaca. Keduanya duduk di meja baca, dan Amelia mulai mencari buku yang sesuai. Setiap lembaran yang ia buka seolah menyuarakan kisah-kisah baru, memperluas cakrawala pemikirannya.“Lihat, Nur,” Amelia menunjuk sebuah buku berjudul Filosofi Kehidupan dalam Kesederhanaan. “Ini mungkin cocok untuk kita.”

Nur mengangguk setuju, “Mari kita baca bersama. Kita bisa saling mendiskusikan setiap poin yang ada.”

Mereka tenggelam dalam dunia kata-kata, membahas, menggali makna, dan menyelami filosofi yang menjadi dasar perbincangan mereka. Malam itu, cahaya lampu perpustakaan yang lembut menyinari wajah mereka, menciptakan suasana magis, seakan mengikat mereka dalam sebuah komitmen untuk menjadikan cinta dan pengetahuan sebagai pedoman hidup.

“Seandainya setiap orang di kampus ini mau belajar dan berbagi seperti kita,” Nur berkomentar, matanya berbinar. “Kita bisa menciptakan sebuah komunitas yang penuh cinta dan kepedulian.”

Amelia mengangguk, merasakan aliran energi positif. “Kita harus mulai dari diri kita sendiri. Setiap tindakan kecil bisa mengubah suasana.”

Setelah berjam-jam terhanyut dalam diskusi dan pembacaan, keduanya merasa lelah namun bahagia. Ketika mereka keluar dari perpustakaan, langit malam menunjukkan keindahannya. Bintang-bintang berkelap-kelip, seakan memberikan semangat baru.

“Rizal benar,” Amelia berkata, menatap bintang-bintang. “Kita memang perlu menciptakan ruang untuk mendengarkan dan berbagi. Cinta sejati berawal dari kesediaan untuk memahami satu sama lain.”

“Dan senja yang indah itu, Amelia,” Nur menambahkan, “menjadi saksi bisu dari perjalanan kita. Kenangan itu akan selalu ada, melahirkan kerinduan yang akan menguatkan kita untuk terus berusaha.”

Dengan semangat baru, mereka melangkah pulang, berjanji untuk membangun sebuah komunitas yang penuh cinta di kampus mereka. Kenangan senja itu bukan hanya sekadar warna yang menghilang, tetapi telah menorehkan makna yang dalam dalam diri mereka, menjadikan setiap pertemuan sebagai ladang untuk menanam benih kasih sayang dan kebijaksanaan. Di tengah malam yang tenang, harapan mereka bercahaya, siap untuk menyambut hari esok dengan penuh cinta dan semangat. Dalam benak Amelia, senja telah menjadi lebih dari sekadar fenomena alam; ia adalah simbol kerinduan, kebersamaan, dan perjalanan menuju pencerahan yang tak pernah berakhir di rahang sembahyang bisikan malam.


Bangkalan, 28 September 2024