LEMBAGA PERS MAHASISWA

LPM ALIF

STAI Al-Hamidiyah Bangkalan

Dari Corong Aspirasi ke Corong Kekuasaan Oleh DPM dan BEM STAMIDIYA


Organisasi mahasiswa sejak awal dibentuk dengan mandat mulia: menjadi corong aspirasi. Ia berdiri untuk menyuarakan kepentingan mahasiswa, mengawasi kebijakan kampus, dan menjadi penyeimbang agar kekuasaan tidak semena-mena. Namun, hari ini mandat itu perlahan pudar.

Alih-alih menjadi penyambung lidah mahasiswa, organisasi mahasiswa di banyak kampus justru bergeser fungsi. Mereka bukan lagi corong aspirasi, melainkan corong kekuasaan. Yang seharusnya menjadi oposisi kritis, kini malah jadi juru bicara kebijakan kampus, meski kebijakan itu menyakiti mahasiswa.

Fenomena ini semakin nyata ketika diam bisa dibeli. Uang SPP, yang diperas dari keringat orang tua mahasiswa, bukan hanya dipakai untuk membiayai pendidikan, tapi juga jadi alat meredam kritik.

  Presiden mahasiswa dan Ketua DPM, yang seharusnya berani bersuara, justru memilih diam ada apa denganmu...? 

Di sinilah letak pengkhianatan intelektual. Mahasiswa yang mestinya menjadi penopang idealisme justru kehilangan keberanian. Dari corong aspirasi, mereka menjelma menjadi corong legitimasi.

Pramoedya Ananta Toer pernah menulis: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan sejarah.” Maka mahasiswa yang diam karena dibeli sejatinya sedang menghapus dirinya sendiri dari sejarah.

Pendidikan sejati, seperti ditekankan Paulo Freire, adalah pendidikan yang membebaskan. Tetapi bagaimana mungkin ada pembebasan jika kampus sendiri ikut membungkam suara kritis? Kampus akhirnya hanya jadi gedung birokrasi: penuh rapat, tanda tangan, dan aturan, tapi kosong dari ruh pembebasan.

Lebih menyedihkan lagi, sebagian mahasiswa memilih diam bukan karena ditekan, tetapi karena merasa nyaman. Inilah bentuk korupsi moral. Socrates rela mati demi kebenaran, sementara ada mahasiswa hari ini yang rela menjual nurani demi fasilitas dan sedikit kemewahan.

Padahal sejarah Indonesia menunjukkan bahwa perubahan selalu dimulai dari mahasiswa. Dari 1966 hingga 1998, suara mahasiswa adalah motor penggerak bangsa. Jika hari ini mereka berubah menjadi corong kekuasaan, maka yang mati bukan hanya gerakan mahasiswa, tapi juga harapan masa depan.

Albert Camus pernah menulis: “Untuk memberontak, seseorang harus menyadari bahwa ia sedang ditindas.” Dan hari ini, penindasan itu hadir bukan dari luar, melainkan dari praktik busuk di dalam kampus sendiri.


Pertanyaannya tinggal satu: apakah mahasiswa akan terus nyaman menjadi corong kekuasaan, atau kembali pada jati dirinya sebagai corong aspirasi?

Sebab uang mungkin bisa membeli diam, tetapi tidak akan pernah bisa membeli nurani.


Pimred: NA

Penanggung Jawab: PU LPM ALIF STAMDIYA

Tulisan Populer
Tulisan Terbaru
Tulisan Terbaca