LEMBAGA PERS MAHASISWA

LPM ALIF

STAI Al-Hamidiyah Bangkalan

Mahasiswa Hari Ini: Antara Gelar dan Nalar

Era ketika gelar begitu mudah diraih, nalar justru sering terpinggirkan. Mahasiswa yang sejatinya menjadi simbol intelektualitas dan agen perubahan kini kerap terjebak pada rutinitas akademik yang kering dari daya kritis. Kampus ramai oleh aktivitas perkuliahan, tetapi sunyi dari perdebatan gagasan. Di sinilah pertanyaan besar muncul: apakah mahasiswa hari ini masih benar-benar berpikir, atau sekadar mengejar selembar ijazah?

Realitas menunjukkan bahwa tidak sedikit mahasiswa yang lebih sibuk mengejar nilai daripada makna, lebih fokus pada kelulusan cepat daripada proses pendewasaan intelektual. Diskusi ilmiah kerap kalah pamor dari tren media sosial, sementara budaya membaca semakin tergeser oleh budaya menggulir layar. Gelar akhirnya menjadi tujuan utama, sementara nalar yang seharusnya menjadi ruh pendidikan justru melemah.

Fenomena ini tentu bukan lahir tanpa sebab. Sistem pendidikan yang menekankan capaian angka, tuntutan ekonomi, serta derasnya arus digitalisasi turut membentuk karakter mahasiswa hari ini. Namun, ketika nalar mulai dikorbankan demi formalitas akademik, mahasiswa perlahan kehilangan identitasnya sebagai insan kritis dan pembaharu sosial.

Kondisi mahasiswa yang lebih mengutamakan gelar daripada nalar memiliki dampak serius bagi kualitas intelektual bangsa. Kampus yang seharusnya menjadi ruang dialektika dan pertarungan ide perlahan berubah menjadi sekadar “pabrik ijazah”. Mahasiswa datang, duduk, mencatat, lalu pulang tanpa benar-benar bergulat dengan gagasan. Tradisi ilmiah seperti diskusi terbuka, kritik terhadap kebijakan, hingga riset yang bernilai sosial semakin jarang mendapat tempat utama. Akibatnya, mahasiswa kehilangan keberanian untuk berbeda pendapat dan mempertanyakan ketidakadilan di sekitarnya.

Selain itu, kemudahan akses informasi di era digital turut membawa paradoks. Di satu sisi, mahasiswa memiliki sumber pengetahuan yang melimpah. Namun di sisi lain, tidak sedikit yang justru terjebak pada informasi instan tanpa proses penyaringan kritis. Kebiasaan membaca mendalam tergantikan oleh budaya menyalin dan menempel, tugas dikerjakan sekadar menggugurkan kewajiban, bukan sebagai proses berpikir. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka mahasiswa hanya akan menjadi pengguna informasi, bukan pencipta pemikiran.

Dampak lain yang tidak kalah mengkhawatirkan adalah melemahnya kepekaan sosial. Mahasiswa yang sibuk mengejar gelar sering kali abai terhadap realitas masyarakat di sekelilingnya. Padahal, sejarah mencatat bahwa perubahan besar kerap lahir dari keberanian mahasiswa menyuarakan kebenaran. Ketika nalar tumpul dan kepekaan sosial menurun, mahasiswa berisiko kehilangan peran strategisnya sebagai kontrol sosial dan agen perubahan.

Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama untuk mengembalikan marwah mahasiswa sebagai insan intelektual. Kampus perlu mendorong budaya diskusi, riset, dan literasi secara lebih serius, bukan hanya mengejar akreditasi dan angka kelulusan. Mahasiswa pun harus berani keluar dari zona nyaman rutinitas akademik, menghidupkan kembali semangat bertanya, membaca, berdialog, dan berpihak pada persoalan rakyat. Gelar seharusnya menjadi hasil dari proses berpikir yang panjang, bukan tujuan utama yang mengorbankan nalar.

Pada akhirnya, gelar tanpa nalar hanyalah simbol kosong. Mahasiswa sejatinya tidak hanya dituntut untuk lulus, tetapi juga untuk tumbuh sebagai manusia yang berpikir, peka, dan bertanggung jawab terhadap realitas sosialnya. Jika nalar kembali ditempatkan sebagai fondasi utama, maka mahasiswa tidak hanya akan menjadi pemilik ijazah, tetapi juga pemilik kesadaran.


Penulis : Abd. Qodir 

Pimred: M. Kholis

Penanggung Jawab: Nur Azizah (PU LPM ALIF )

Tulisan Populer
Tulisan Terbaru
Tulisan Terbaca