LEMBAGA PERS MAHASISWA

LPM ALIF

STAI Al-Hamidiyah Bangkalan

Perempuan Dan Kesenjangannya

Perempuan sering kali di pandang sebagai kelompok kelas dua atau subordinat laki-laki. Hal ini disebabkan oleh kontruksi budaya dan tradisi yang berlaku dalam lingkungan masyarakat, sehingga perempuan seringkali dipandang sebelah mata oleh kalangan masyarakat. Tanpa sadar dalam kehidupan keluarga secara tidak langsung pola asuh orang tua juga sering kali membedakan antara anak laki-laki dengan anak perempuan. Orang tua akan lebih sering memprioritaskan anak laki-lakinya dibandingkan dengan anak perempuannya, karena mereka menganggap anak laki-lakilah yang kelak akan melanjutkan tongkat estafet keluarga selanjutnya. Bahkan acapkali banyak keluarga yang menganggap anak laki-laki lah yang akan membawa nama baik keluarga. Jika demikian adanya, lalu bagaimana dengan nasib perempuan jika mindset tersebut masih berlaku sampai saat ini?. Dari pemikiran tersebut juga muncul justifikasi bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah tak berdaya. Terlebih lagi dalam penempuhan pendidikan, yang mana stigma masyarakat selalu menyangkut pautkan pendidikan dengan kodrat perempuan, seperti contoh “buat apa perempuan sekolah tinggi-tinggi, toh ujung-ujungnya juga pasti kembali ke dapur,sumur,kasur”. Sudut pandang inilah yang seharusnya kita luruskan agar tidak menjadi kesenjangan dimana perempuan kembali di pandang rendah dalam kehidupan sosial. Banyak sekali faktor sosial yang menjadi penyebab ketimpangan sosia pada perempuan dan yang paling sering kita jumpai adalah budaya patriarki dalam lingkungan masyarakat, yang mana laki-laki kembali menjadi peran utama di dalam kehidupan. Laki-laki memiliki posisi lebih tinggi dari pada perempuan baik dalam aspek sosial,budaya dan ekonomi. Langgengnya patriarki dan stigma perempuan dengan pekerjaan domestik di dalam pekerjaan rumah tangga contohnya, dimana semua pekerjaan rumah tangga seperti memasak,mencuci,membersihkan rumah dan lain sebagainya semuanya mutlak mejadi tugas pokok dan harus di kuasai oleh seorang perempuan dalam mengurus rumah tangganya. Sedangkan untuk laki-laki hanya di tuntut untuk bekerja mencari nafkah, mereka merasa bahwasanya pekerjaan rumah tangga memang di wajibkan bahkan di khususkan untuk perempuan.

 Perempuan juga kerap kali dihadapkan pada persimpangan jalan terkait ketetapan yang ada dalam hidup mereka. Seolah-olah setiap batu loncatan yang mereka pilih sangat terbatas dan tidak pernah tepat. Padahal di setiap kehidupan tidak akan pernah lepas akan peran perempuan, bahkan di dalam keluarga perempuan memiliki peran utama untuk mendidik anak-anaknya. Karena pada dasarnya seorang ibu adalah madrasatul ‘ula bagi setiap generasinya,bahkan pendidikan itu sudah diberikan oleh seorang ibu ketika anaknya masih dalam kandungan. Hal ini sejalan dengan pernyataan bahwa pendidikan bagi perempuan berdampak pula terhadap meningkatnya pendidikan pada diri anak. Jadi jika kita sebagai perempuan tidak mau keluar dari zona aman untuk menjadi terdidik sebelum mendidik, lalu bagaimana nantinya kita akan mendidik generasi-generasi yang lahir dari rahim perempuan? , bagaimana kita akan memutus sterotip-sterotip yang tertanam dalam masyarakat jika kita sebagai perempuan malah takut untuk memilih berpendidikan tinggi. Oleh sebab itu kesadaran mengenai peran perempuan sebagai sumber daya yang potensial harus berkembang dan tertanam dalam diri perempuan. Perempuan juga harus hadir dalam pembangunan sumber daya yang ada dan turut berpartisiasi didalamnya sebagai pelaku pembangunan, bukan hanya sekedar menjadi pengikut dalam proses pembangunan sumber daya tersebut. Karena pada dasarnya perempuan yang berdaya adalah perempuan yang bermanfaat dan selalu memberikan kontribusinya baik dalam lingkungan keluarga maupun dalam lingkungan sosial masyarakat. Terlebih lagi pada masa sekarang ini keberadaan perempuan sudah tidak lagi di pandang sebelah mata, akan tetapi posisi perempuan saat ini bisa dikatakan sejajar dengan laki-laki. Hal ini di gaung kan dalam sistem kesetaraan gender yang ada di Indonesia. Dengan adanya sistem kesetaraan gender,seharusnya kaum laki-laki juga menjadi pendukung sehingga perempuan dan laki-laki bisa berjalan beriringan dalam situasi dan kondisi apapun baik dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat. Di dalam lingkungan keluarga laki-laki dan perempuan seharusnya bisa saling melengkapi dalam melaksanakan perannya. Karena dalam hal ini kita sebagai perempuan tidak bisa berdiri sendiri menyatakan diri kita setara dengan kaum laki-laki, bisa-bisa nanti kita sebagai perempuan malah menjadi sasaran tradisi yang berlaku di masyarakat. Bahkan masyarakat nantinya bisa beranggapan bahwa perempuan menyalahi aturan dan menentang norma yg ada. maka dari itu sangatlah di butuhkan laki-laki yang sepaham dan mendukung perempuan dalam hal kesetaran gender. Karena perempuan yang setara bukanlah mereka yang hanya mendapatkan kemerdekaan berbicara dan berpendapat dalam ruang lingkup keluarga maupun ranah publik, tetapi perempuan yang setara adalah mereka yang dapat memberikan manfaat kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya dan dapat melakukan perubahan serta memberikan dampak positif pada lingkungan yang ada di sekitarnya. Dan penulis ternama Pramoedya Ananta Toer pernah berkata dalam goresan penanya “ perempuan adalah lautan kehidupan, maka hormatilah dia”. Hal tersebut tidak dapat dipungkiri dan nyata adanya, sebab tanpa perempuan peradaban manusia tidak akan pernah ada.





       Penulis : Nada Nabila Ayu Fitri

        Penanggung Jawab : PU LPM ALIF STAMIDIYA

Tulisan Populer
Tulisan Terbaru
Tulisan Terbaca