Dengan hadirnya dirimu dalam fase hidupku, memang mampu membuat hari-hariku sedikit lebih berwarna. Namun, jika bisa memilih, aku tak ingin mengenalmu jauh lebih dalam, karena warna-warni dalam hidupku akan kembali buram ketika sikapmu menunjukkan segalanya.
Aku pernah mengira, mengenalmu adalah sebagian dari keindahan. Tapi nyatanya, sebagian dari duka, luka, dan lara. Sakitnya tak membekas, tapi terasa sesaknya hingga detik ini. Aku tak menyalahkanmu atas apa yang telah terjadi, namun jika bisa, jangan munculkan lagi dirimu di depanku—bukan karena benci, akan tetapi karena pedih.
Terima kasih aku ungkapkan kepadamu karena telah menerimaku dengan baik kala itu. Terima kasih juga aku haturkan kepadamu atas luka yang entah kau sadari atau bahkan sengaja. Aku tak bisa membencimu, Tuan—bukan karena rasa itu masih ada, tetapi karena posisimu pernah berada di tempat terfavorit dalam hidupku.
Aku tak menyesal telah mengenalmu, tapi aku kecewa akan sikapmu, karena mulut manismu tak sebanding dengan perlakuan yang kau tunjukkan.
Penulis: Hoirimah
Pimred: Moh. Kholis
Penanggung Jawab: Nur Azizah( PU LPM ALIF)