Hari yang cerah, secerah hari Nia hari ini. Siang itu terasa sangat panas dan menyengat. Keringat bercucuran di dahi Nia menjadi saksi lelahnya membereskan barang-barang untuk berangkat ke Pondok Ramadhan.
Mondok adalah keinginan Nia sejak dulu, namun niat itu kandas karena keterbatasan ekonomi serta minimnya dukungan dari keluarga. Akhirnya, ia hanya bisa mengikuti Pondok Ramadhan yang berlangsung setengah bulan. Itupun, ia harus berjuang keras untuk mendapatkan izin.
Berhubung pondok diadakan di tempat ia bersekolah selama ini, akhirnya dengan berbagai rayuan, sang ibu pun memberinya izin. Hari semakin sore. Sesuai ketentuan pengurus, semua santri diharapkan sudah berada di pesantren bakda Ashar.
Bagi Nia, yang notabene adalah anak yang tidak bisa jauh dari ibunya, sebelum berangkat ia mencium punggung tangan ibunya penuh takzim, lalu memeluknya erat, seolah akan berpisah lama. Meskipun sang ibu menyuruhnya untuk tidak perlu menangis karena tempat mondoknya hanya pindah desa dan tidak jauh, tetap saja air mata Nia mengalir deras. Seolah ia ingin mondok bersama ibunya tanpa harus berpisah.
Meski mondok adalah keinginannya, berpisah dengan ibunya bukanlah hal yang mudah. Nia berpikir keras, jika bukan sekarang, kapan lagi ia bisa merasakan lika-liku kehidupan santri di pondok.
Kesedihan yang begitu dalam berusaha ia pendam. Sesampainya di sekolah, setelah mengurus administrasi kitab dan menaruh perlengkapannya di kamar santri, ia pergi ke ruangan sebelah untuk berkumpul dengan teman-temannya yang satu per satu mulai berdatangan.
Di ruangan itu, meskipun ada beberapa orang, Nia tetap merasa kesepian. Ia menelungkupkan wajahnya pada lipatan tangan, lalu menangis. Hal itu membuat teman-temannya kebingungan.
“Kamu kenapa menangis?” tanya salah satu teman yang melihat punggung Nia bergetar.
Nia mendongak dan menjawab bahwa ia kangen ibunya. Bukannya ikut sedih, teman-temannya justru tertawa. Bagaimana tidak, baru saja sampai di pondok, ia sudah mengungkapkan rindunya kepada sang ibu yang baru ditinggalkan beberapa jam lalu.
Hari demi hari berlalu, namun kesedihan selalu menemani Nia. Tidak ada hari tanpa tangis. Ia selalu mengingat ibunya, rindu berbuka dan sahur bersama di rumah.
Setiap malam sebelum tidur, ia selalu menangis. Pagi harinya, matanya tampak bengkak. Namun ketika ada yang bertanya, ia hanya menjawab sakit perut. Teman-temannya percaya, kecuali Riya, yang sangat paham apa yang sebenarnya terjadi.
Riya tahu bahwa Nia tidak bisa jauh dari ibunya, merindukannya, ingin cepat pulang, dan berharap dijenguk. Sejak awal, Nia memang tidak pernah dijenguk oleh orang tuanya, berbeda dengan teman-temannya yang sering dikunjungi, dibawakan makanan, atau diberi uang jajan.
Nia hanya bisa menitikkan air mata saat melihat teman-temannya memeluk ibu mereka ketika dijenguk. Sedangkan Nia? Ia hanya bisa memeluk dirinya sendiri, menahan isak tangis, dan memendam rindu yang begitu berat.
Hingga akhirnya, tibalah hari terakhir di pondok. Nia sangat antusias karena keesokan harinya ia akan pulang. Saat tiba di rumah, ia langsung berhambur memeluk sang ibu yang sangat dirindukannya selama ini.
Penulis: Karini
Pimred: Moh. Kholis
Penanggung Jawab : Nur Azizah( PU LPM ALIF)