Siapa yang lebih berbahaya.? Menjadi dalang yang mendidik Rakyat untuk berani menuntut haknya, atau dalang yang mendidik Rakyat untuk diam dalam ketakutan? Dalang yang ingin melihat Rakyat merdeka, atau dalang yang hanya ingin menjaga tuannya tetap berkuasa dengan penindasan.?
Aneh, jika ada dalang yang mencerdaskan pelajar agar kritis menuntut pendidikan gratis mereka sebut "provokator atau penghasut." Tapi jika ada dalang yang membuat bangunan sekolah menjadi pos militer, dan membiarkan Rakyat tetap bodoh, mereka menyebutnya "penjaga stabilitas." Jika ada dalang yang menyebar ketakutan dan intimidasi, mereka menyebutnya "penegak hukum."
Jadi kenapa takut salah menjadi "dalang" bagi yang terpinggirkan, bagi yang dirampas haknya, bagi yang tak punya suara.? Bukankah mereka berusaha membuat istilah "dalang" terdengar jahat.? Mereka ingin kita merasa bersalah menjadi dalang dan memaksa perlu berusaha membuktikan bahwa kita bukan "dalang." Tapi kita tidak akan terjebak dalam permainan itu.
Jika menjadi dalang berarti membangun kesadaran, menggerakkan perjuangan, dan menuntut pembebasan, maka pelajari dan sadari juga bahwa kemerdekaan yang mereka nikmati saat ini dihasilkan oleh Tan Malaka yang dituduh sebagai dalang lalu dipenjarahkan kolonial Belanda dan dibunuh bangsanya sendiri.
Jika pendidikan penjajah dirancang untuk membuat kita tunduk pada penjajah, maka ironisnya, pendidikan Belanda justru melahirkan pejuang seperti Soekarno, Hatta, dan Tan Malaka yang berbalik melawan mereka. Dalang utamanya adalah struktur penindasan itu sendiri. Setiap kebijakan eksploitatif, setiap represi terhadap hak-hak dasar, dan setiap upaya membungkam suara Rakyat adalah faktor utama yang mendorong perlawanan. Che Guevara bilang, "Di mana ada ketidakadilan, di situ ada perlawanan."
Penjajah punya dalang di akademi yang menulis buku untuk melegitimasi penjajahan. Mereka punya dalang di media yang merancang propaganda agar Rakyat takut dan tunduk. Mereka punya dalang di militer yang mendesain strategi represif untuk membungkam gerakan perlawanan. Singkatnya penjajah memiliki suprastruktur sebagai dalang utamanegara, hukum, media, dan institusi pendidikan yang dirancang untuk mempertahankan kekuasaan kolonial. Mereka menciptakan narasi bahwa perlawanan rakyat bukanlah kesadaran yang tumbuh dari penderitaan, tetapi sekadar ulah "provokator."
Penjajah juga memiliki buzzer sebagai dalang propaganda, menyebarkan kebohongan untuk membalikkan realitas. Buzzer mereka bekerja untuk membuat penindas tampak sebagai penolong, sementara pejuang dianggap musuh. Mereka menggunakan otoritas moral dan spiritual para tokoh agama untuk melegitimasi penindasan, menyebarkan narasi yang mendukung penjajah, dan membuat penindas tampak sebagai penolong.
Kolonialisme selalu punya dalang di balik mimbar. Ada agamawan yang mengutuk perjuangan sebagai kehancuran, tetapi diam terhadap penjajahan. Mereka mengutip ayat-ayat untuk menenangkan Rakyat, tapi tidak pernah mengutip ayat-ayat untuk menentang ketidakadilan. Mereka punya guru dan akademisi sebagai alat penjaga hegemoni, mendidik Rakyat bukan untuk berpikir dan bertindak, tapi untuk tunduk. Menjadikan sekolah dan kampus sebagai pabrik pencetak budak.
Dalam sejarah umat manusia, selalu ada dalang yang menentukan arah perjalanan peradaban. Ada dalang penindasan, yang mengendalikan hukum, ekonomi, pendidikan, dan agama untuk melanggengkan kekuasaan. Tapi setiap penindasan selalu melahirkan dalang perjuangan yang menyalakan kesadaran dan mengorganisir pembebasan.
Setiap zaman memiliki dalangnya. Dalang penindasan ingin sejarah tetap berjalan sesuai kepentingannya. Dalang perjuangan ingin mengubah sejarah agar berpihak pada keadilan. Pada akhirnya, pertanyaannya bukan apakah ada dalang, tetapi di pihak mana kita berdiri? Maka; Jangan Takut Menjadi Dalang Perjuangan!
Penulis : Renungan Anak Warkop
Pimred : Moh. Kholis
Penanggung Jawab : Nur Azizah ( PU LPM ALIF )