Fenomena ini sering sekali terjadi di sepanjang hari baik untuk melangsungkan pernikahan. Mungkin dulu menikahi perempuan yang lebih tua menjadi tidak pada tempatnya, namun sekarang hal itu menjadi penikahan yang umum kita lihat. Ini bukan penikahan atas dasar kecelakaan yang lahir melalui proses penggrebekan lalu berakhir dengan ijab qobul. Tentu tidak seperti itu.
Mereka berdua ibarat faidah “Lil Musyarokah” dalam kaidah shorrof yang mempunyai makna “saling”. Saling mencintai satu sama lain, saling berkomitmen, dan siap membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah. Bagi sebagian orang mungkin terdengar aneh, tetapi ini realita sosial yang terjadi.
Pakar cinta sering menjelaskan bahwa ketika kamu menemukan cinta, perbedaan usia hanyalah detail kecil dalam skema besar. Bahasa itu mungkin terdengar nakal di telinga kita, sehingga kadang kala kita hanya menganggap itu sebagai pepesan kosong yang hanya ada di dongeng dan imajinasi para pembuat film. Namun nyatanya tidak sedikit orang yang melakukan itu.
Sebenarnya fenomena ini pernah dijelaskan oleh sigmund freud, seorang psikolog terkenal asal Austria. Menurut teori freud, adanya ketertikan emosional atau seksual anak (terutama laki-laki) pada orang tua lawan jenis dan mempunyai rasa cemburu terhadap orang tua sesama jenis di sebut sebagai kompleks oedipus.
Faktor itu yang memicu saat anak dewasa lebih tertarik terhadap perempuan yang lebih tua atau jauh lebih tua darinya di banding anak gadis yang secara umur di bawahnya. Saat dewasa ia mengembangkan ketertarikan itu terhadap perempuan lain sehingga Ia akan memilih perempuan yang menurut dia seperti ibunya.
Dalam psikologi, istilah kompleks oedipus menjadi kontroversial, karena ada yang menganggap kondisi ini normal dan tidak. Beberapa psikiater dan filsuf tak luput mengkritik teori psikoanalisis sigmund freud ini. Mereka menganggap temuan ini terlalu mentah dan kebarat-baratan.
Penulis tidak ingin tergesa-gesa untuk menilai apakah teori ini benar atau salah. Tetapi penulis mencoba memberikan cara pandang yang berbeda dari apa yang di jumpai freud. Pada dasarnya seseorang yang secara umur lebih tua, di anggap mempunyai kematangan emosional, pengalaman hidup, dan kepastian komitmen. Hal itu yang mendasari seseorang memilih pasangan hidup satu tingkat di atasnya atau lebih.
Pasangan yang lebih dewasa akan minim melakukan drama-drama yang tak perlu dilakukan. Sedang pasangan yang secara kematangan emosional masih jauh dari panggang api, seringkali memandang masalah kecil sebagai masalah yang besar. Api kecil yang seharusnya bisa dipadamkan dengan air malah ia tambah dengan dua liter bensin.
Selain itu pasangan yang lebih dewasa kenyang akan pengalaman, sudah melewati berbagai pahit manisnya hidup. Sehingga ia lebih menghargai komitmen yang di bangun dan siap menuju kepada ikatan yang sakral, yaitu pernikahan. Hal itu yang mendasari banyaknya laki-laki memilih pasangan lebih tua darinya. Tentu cara pandang itu berbeda dengan apa yang diyakini sigmund freud.
Penulis :Pangeran M
Penanggung Jawab : PU LPM ALIF STAMIDIYA