Di antara lembar-lembar sunyi yang kupenuhi aksara,
ada namamu yang tak pernah luput kutitip pada tinta.
Jarak memisah, langkah kaki tak terukur,
namun kalimatmu kutunggu, debar di dada bergemuruh.
Tak setiap pagi kita berbagi langit yang sama,
tapi kata-katamu adalah mentari, menyinari jiwa yang lara.
Kau hadir lewat huruf, lewat jeda yang terangkai,
lebih hangat dari tawa, lebih nyata dari mimpi.
Kita, dua jiwa berkawan lewat kata,
tak perlu melihat raga,
cukup mengenal luka, berbagi tawa.
Kau tahu cara tenangkan tanpa suara,
lewat kalimat sederhana, dalam amplop tak bersuara,
menggema berhari-hari di dada yang bergelora.
Kita bicara dunia, mimpi, dan kehilangan,
kau tak menghakimi, hanya menemani dalam diam.
Dan itu cukup, sungguh cukup,
kehadiranmu tak hampa, walau tanpa tubuh.
Suratmu adalah rumah kecil di tengah hujan,
tempatku berteduh dari ragu, dari keraguan.
Tak ada pelukan yang bisa diberikan,
namun setiap paragrafmu adalah genggaman.
Bila suatu hari waktu tak lagi beri kita ruang,
kertas tak lagi antar rindu yang tenang,
ketahuilah:
persahabatan ini abadi, walau dunia melupakannya nanti.
Sahabat pena bukan tentang jarak,
tapi dua hati bertukar nyala, dalam sepi yang sama pekat.
Penulis : NAHLUS
Penanggung Jawab : PU LPM ALIF STAMIDIYA