Menjadi anggota aktif di sebuah organisasi bukan hanya melelahkan fisik, tapi juga melelahkan perasaan. Memang, aktif di organisasi itu menyenangkan dan bisa membuat kita menjadi lebih baik dari sebelumnya jika kita mau belajar untuk berubah.Dulu, aku hanyalah anak yang tidak tahu arah. Selalu berada di rumah, jarang pergi jauh, dan bahkan jarang main ke rumah teman.
Sekolah adalah satu-satunya alasan aku keluar rumah, dan setelah itu aku langsung pulang. Haha.Setelah aku ikut organisasi, baik yang ekstra maupun non-ekstra di kampus, aku sering mengikuti kegiatan di luar rumah. Efeknya, aku jadi jarang di rumah. Dulu aku menghindari itu, tetapi sekarang aku malah menikmatinya (jarang di rumah).
Aku tidak menyangka aku bisa seperti ini, haha.Itu cuma cerita suka ku saja.Aktif di organisasi itu memang sulit, bahkan bisa merusak mental jika kita tidak merawatnya dengan baik. Aku bilang begitu karena aktif di organisasi tanpa restu dari orang tua sangat menyiksa perasaan. Apalagi di fase proses ini, aku belum memiliki apa-apa dan belum bisa membuktikan apa pun dari diriku sendiri. Ya, capek memang terus seperti ini.
Namun, kadang aku berpikir, mau melanjutkan atau meninggalkan organisasiku ini? Tekanan mental yang aku rasakan bukan dari orang lain, tapi justru dari orang tuaku sendiri.
Aku tidak tahu harus bagaimana, dulu aku dipaksa untuk berubah, tapi sekarang aku ingin berubah tanpa mendapatkan dukungan. Yang ada hanyalah hinaan dan ucapan meremehkan dari orang yang aku harapkan bisa menjadi penolongku.Aku merasa orang tuaku tidak berbeda dengan mereka yang tidak menyukaiku. Mungkin jika suatu saat aku tiba-tiba sukses, aku baru akan merasakan kasih sayang, dukungan, dan kebanggaan yang aku harapkan dari orang tuaku sendiri.
Penulis : Mordor
Penanggung Jawab : PU LPM ALIF STAMIDIYA