Media memang memiliki dampak dan pengaruh yang sangat besar dalam menciptakan persepsi publik. Namun sayangnya, kadang Sebagian pemberitaannya tidak didasari oleh riset yang mendalam atau dengan realitas yang ada. Beberapa waktu terakhir, bahkan muncul sebuah opini yang ditayangkan salah satu stasiun tv swasta yang menggiring opini menyoroti sosok kiyai dengan nada yang negatif. Sosok kiyai seringkali dideskripsikan bukan hanya sekedar pengajar agama, tetapi juga sebagai sosok penjaga peradaban spiritual umat, bukan hanya sebagai guru bahkan merangkap jabatan sebagai orang tua, pemimpin juga pelindung sekaligus pembimbing moral bagi ribuan santrinya. Namun ironisnya, akhir-akhir ini muncul narasi yang menyudutkan sosok kiyai dan pesantren dengan dalih diskriminasi. Bahkan Sebagian pihak yang telah terpengaruh dengan mudah melontarkan tudingan bahwa pesantren merupakan ruang tertutup yang didalamnya hanya berisikan penindasan dan ketidak adilan, bahkan ada pula yang menuding bahwa hubungan antara kiyai dan santri bersifat timpang dan menekan. Tuduhan seperti ini muncul seolah melupakan kenyataan panjang tentang siapa yang sebenarnya menjaga nilai-nilai pendidikan bangsa Ketika pendidikan modern saat itu belum menjangkau kepelosok negeri.
Dalam hal ini perlu kita garis bawahi bahwa sejatinya hubungan kiyai dan santri tidak dibangun atas dasar kekuasaan melainkan atas dasar cinta dan keberkahan. Kalimat ini menggambarkan esensi terdalam dari dunia kepesantrenan , yakni dimana sebuah ruang ilmu, adab, dan kasih sayang berpadu tanpa embel-embel status sosial maupun materi. Dipesantren, sejatinya seorang kiyai bukanlah sosok penguasa dan santri juga bukan digambarkan sebagai bawahan dari penguasa, keduanya ( kiai-santri ) merupakan sosok jiwa yang digambarkan terikat menjadi satu dan keduanya memiliki tujuan yang sama yakni mencari ridha Allah melalui ilmu. Disini kiyai slalu digambarkan sebagai sosok guru sekaligus teladan bagi muridnya, sedangkan santri digambarkan sebagai sosok murid sekaligus sebagai penerus perjuangan sang guru. Hubungan ini bukan sekedar hubungan transaksi antara santri dan kiyai, melainkan hubungan spiritual dimana tidak ada kontrak tertulis yang mengatur keduanya ( santri-kiyai ). Hubungan yang dibangun atas dasar kasih sayang dan keberkahan antara kiyai dan santrinya bukan hanya sekedar menjadi warisan kultural, tetapi juga menjadi fondasi pendidikan dalam pembentukan karakter bangsa selama berabad-abad lamanya. Bahkan bisa dikatakan bahwa menjaga keberkahan hubungan kiyai dan santri berarti juga ikut serta menjaga denyut spiritual bangsa. Karena dari hubungan inilah lahir tokoh-tokoh ulama, pemimpin Masyarakat, dan pejuang kemerdekaan bangsa. Bahkan Sejarah mencatat bahwa dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, kiyai memiliki peran penting dimana Resolusi Jihad yang dilaksanakan pada tanggal 22 Oktober 1945 tidak luput dari campur tangan para kiyai dan santri. Dari Sejarah itulah muncul seruan yang bukan hanya sekedar ajakan perang, melainkan panggilan jihad agar para santri dan umat islam kala itu mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dari tekad dan keberanian kiyai dan santrilah api perjuangan itu mulai menyala.
Di era yang serba digital saat ini, media semestinya tidak hanya menjadi corong informasi, tetapi juga harus menjadi jembatan pemahaman. Disini publik berhak untuk tahu, dan media seharusnya memberitakan bahwa dibalik sorban dan sajadah seorang kiyai, tersimpan perjuangan, do’a serta sujud yang panjang demi membina moral generasi bangsa. Menulis bahkan mengomentari tentang sosok kiyai seharusnya tidak hanya mengutip sebuah peristiwa saja, tetapi juga harus memahami makna dibalik peristiwa tersebut. Dari pemberitaan yang beredar, sebenarnya yang paling kita butuhkan kali ini bukanlah berita yang viral ataupun tagar yang sensasional. Melainkan kejernihan hati dan pikiran agar kita bisa melihat bahwa keberadaan sosok kiyai disini merupakan sebuah cermin ketulusan yang menjaga adab, akhlak, iman bahkan moral para generasi bangsa. Menyudutkan kiyai bukan hanya sekedar kekeliruan dalam hal berfikir, tetapi juga bentuk halus dari lupa diri terhadap rahim sejarah yang telah melahirkan bangsa ini.
Penulis: Nada Nabila AF
Pimred NA
Lay out: Afifuddin
Penanggung Jawab: PU LPM ALIF STAMIDIYA