Dari banyaknya hiasan, aku lebih menyukai kesederhanaan kecil. Karena kesederhanaan mengajarkan bahwa tidak perlu sempurna untuk disukai.
Pernah segar, lalu terkulai dan layu, namun tak pernah benar-benar mati. Kasih sayang yang tulus selalu punya cara untuk mengajarkan kesederhanaan kembali.
Sesuatu yang sempat redup, seperti makna dari ketulusan yang kembali tegak ketika disiram perhatian. Jiwa yang dirawat dengan tulus akan selalu menemukan alasan untuk menampakkan kembali kesederhanaannya.
Aku menyukai kesederhanaan bukan hanya karena ingin disukai banyak orang. Sebab, kesederhanaan yang indah memiliki sesuatu yang berbeda dari yang lainnya.
Itulah mutiara dengan cahayanya sendiri. Ia indah dengan caranya sendiri, ia cantik walau tanpa hiasan. Karena kesederhanaan, ia akan terlihat indah di mata orang yang tepat.
Makna mengajarkan satu hal tentang waktu.
Tidak semua hal menemukan maknanya pada waktu yang sama. Ada yang lebih dahulu menemukan cahaya, dan ada pula yang memilih menunggu lebih lama.
Begitu pula dengan perasaan. Tidak perlu merasa tertinggal hanya karena seseorang sudah lebih dahulu sampai. Barangkali bukan terlambat, mungkin hanya belum sampai pada waktunya.
Tertutup bukan berarti tidak indah. Ia hanya sedang menyimpan waktunya, menunggu saat yang tepat untuk mekar dan menunjukkan keindahan perasaannya.
Penulis : Hoirimah
Pimred: Moh. Kholis
Penanggung Jawab: Nur Azizah( PU LPM ALIF)