Malam terasa begitu sunyi. Aku tak tahu harus berbuat apa dalam kesendirian. Bunyi jangkrik dan burung hantu seakan menjadi teman setia setiap hari. Dunia terasa sempit, sementara kesepian makin menghimpit. Kubuka WhatsApp, Facebook, dan Instagram semuanya terasa sepi, bagai area kuburan tak bertepi.
Dalam renungan panjang, aku berpikir mungkin aku hanya butuh seorang teman. Teman yang bisa menjadi inspirasi, motivator untuk meraih mimpi, sekaligus penyemangat jati diri demi masa depan.
Tanpa sengaja, aku pun bertemu dengannya. Aneh rasanya, baru berjumpa tetapi seperti sudah saling mengenal begitu lama. Sejak saat itu, perjalanan hidupku terasa lebih berwarna, penuh gembira dan bahagia.
Kami mulai menjalani pertemanan. Aku belajar bahwa dalam berteman, kita harus saling mengenal, saling memahami, dan saling menerima keadaan masing-masing. Daripada membuang waktu dalam kesepian, lebih baik mencari teman yang menantang dan menginspirasi. Kami sering menghabiskan waktu bersama, saling berbagi cerita dan pengalaman indah. Perlahan, hidupku berubah menjadi lebih baik.
Aku pun sadar, betapa pentingnya bersikap bijak dan menghargai keterbatasan seorang teman, karena setiap manusia pasti memiliki kekurangan. Semakin baik kita memperlakukan orang lain saat mereka dalam kesulitan, semakin besar pula kemungkinan mereka akan membantu kita saat kita membutuhkan.
Menerima kekurangan teman berarti juga siap menghargai kelebihannya. Dari situlah lahir kenyamanan, ketulusan, dan kepercayaan. Ketulusan membuat pertemanan terasa hangat, bukan sekadar hubungan yang lama tetapi kosong makna. Kepercayaan tumbuh dari kepedulian dan kesetiaan tanpa pengkhianatan.
Kini aku mengerti, teman terindah bukanlah yang selalu ada dalam keramaian, tetapi yang hadir menghapus sepi dan menguatkan langkah menuju mimpi.
Penulis : Kursiyah
Pimred: Moh. Kholis
Penanggung Jawab : Nur Azizah (PU LPM ALIF )