LEMBAGA PERS MAHASISWA

LPM ALIF

STAI Al-Hamidiyah Bangkalan

Tersesat di Perguruan Tinggi


Robi lahir sebagai anak laki-laki yang menjadi tulang punggung keluarga, dalam pundaknya memikul beban yang cukup berat. Setiap hari ia memfungsikan tenaga yang di berikan tuhan untuk bertahan hidup dan menghidupi. Menjelang subuh ia selalu bergegas berjualan tahu di sekitar pasar konang. Bagaimanapun saat itu robi harus berpikir realistis, mencari uang lalu pulang ke gubuk yang ia tempati. Sampai pada suatu masa robi melihat poster besar yang terpampang di sekitar jalan konang-bungkak bertuliskan “Pendaftaran Mahasiswa Baru”. dari sini perjalanan robi di mulai.


Ia tertarik masuk perguruan tinggi sembari berjualan. Dalam hati ia ingin memperbaiki kehidupan sosialnya. Ia merasa dengan menjadi sarjana kehidupannya akan jauh lebih baik. Saat ini ia hanya lulusan Madrasah Aliyah (MA), ayahnya hanya sampai di kelas 2 Sekolah Dasar (SD). Ayah robi hanya fasih menggunakan bahasa madura, bahasa indonesia dianggap bahasa asing baginya.


Ibunya tentu lebih dari itu, seorang perempuan yang hidup di lingkaran patriarki. Lingkaran yang menganggap bahwa perempuan hanya kelas nomor dua. Tempatnya di kasur, sumur, dan dapur. Tentu anggapan itu menjadi pusat kebenaran yang harus di-imani oleh masyarakat. Beliau tidak menempuh pendidikan apapun seperti anak dan suaminya. Jangankan pelajaran aksi-reaksi (hukum newton 3), tambahan dan perkalian pun beliau hanya tahu karena sering belanja di pasar.


Realita itu yang membuat robi bertekad untuk menjadi sarjana. Robi ingin di belakang namanya ada imbuhan gelar dari perguruan tinggi hingga tetangga rumahnya tak menganggap keluarga robi sebagai keluarga dari kasta rendah. Ia seringkali memberikan pesan dalam caption stori-nya “jika tak ku ubah sekarang lantas kapan nasib akan menemukan titik terang”. 


Pendapatan bersih robi perhari kisaran dua ratus ribu. Separuh robi gunakan untuk keperluan kuliah, separuhnya lagi untuk kepentingan dirinya dan keluarga. Sepanjang hari robi menjalani hidup seperti itu, hanya mungkin saat ini agak berbeda, karena robi harus menghadapi tugas makalah. Selain memfungsikan tenaga, kali ini ia harus memanfaatkan betul akal yang ia punya.


Tantangan itu terus ia lewati hingga di fase dimana namanya di panggil di atas panggung wisuda, panggilan yang ia nanti-nanti. “Mohammad robi bin munari Sarjana Pendidikan” MC memanggil namanya sembari di sambut teput tangan keras oleh kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya tampak sangat bahagia atas apa yang ia capai. Mata keduanya berkaca-kaca hingga tak terasa menetes di tanah yang menjadj saksi atas perjuangan robi.


Keluarga robi mulai tidak di pandang dengan mata tertutup, apa yang dikatakan robi disimak dengan baik oleh tetangganya. Hal itu karena robi dianggap orang yang sukses menempuh perguruan tinggi. Banyak orang tua yang anaknya ingin seperti robi. Naasnya anggapan itu tidak di imbangi dengan kebutuhan ekonominya. Ekonomi keluarga robi tidak semakmur dulu saat robi berjualan tahu, dengan penghasilan kisaran enam juta perbulan, lebih tinggi dari gaji PNS. 


Robi saat ini hanya bergaji tiga puluh lima ribu perhari, dengan akumulasi perbulan kisaran sembilan ratus ribu. Ia baru menyadari bahwa apa yang terjadi saat ini bukan lagi penurunan, tetapi kejatuhan yang malang. Bagaimana ia bisa menghidupi keluarganya dengan cara seperti ini. Robi berpikir ulang untuk meninggalkan profesinya sebagai guru honorer, tetapi pikirannya selalu bertengkar dengan hatinya.


Ia merasa terjebak dengan gelar yang ia dapatkan, tak mungkin bagi dirinya sebagai seorang sarjana memilih untuk berjualan tahu. Yang artinya gelar yang ia dapatkan tidak bisa ia manfaatkan, atau memang ia korban dari kegagalan sistem pendidikan. Entahlah seperti apa pastinya. Yang jelas ini sangat aneh baginya. Hati robi berkecamuk seolah mengatakan bahwa ia salah menentukan pilihan hidup. Pikiran itu selalu menghantui robi.


Pertengkaran antara realitas dan idealitas, realita sosial menuntuk robi untuk terus mendapatkan uang. Dengan cara apapun itu uang harus terus ia dapatkan agar bisa hidup dan menghidupi. Namun idealnya seorang lulusan sarjana harus bisa memanfaatkan gelar yang ia punya. Gelar susah payah ia dapatkan selama hampir empat tahun. Yang jika tidak demikian ia di anggap produk gagal dari perguruan tinggi. Kejam memang kehidupan ini.



Penulis : Pangeran Mandung

Pimred: NA

Penanggung Jawab: PU LPM ALIF STAMIDIYA

Tulisan Populer
Tulisan Terbaru
Tulisan Terbaca