Matahari pagi selalu memberikan semangat bagi seorang anak yang sedang berjalan menuju sekolahnya. Dengan penuh keceriaan, gadis bernama Rima bersenandung riang, menyusuri setiap langkah yang penuh makna. Meskipun tidak memiliki banyak teman, Rima selalu antusias pergi ke sekolah. Ia berjalan kaki menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit setiap hari. Tentu saja melelahkan, tetapi tidak terasa ketika dijalani dengan penuh semangat. Seolah-olah ia dapat melihat indahnya masa depan di ujung sana.
Namun, keterbatasan ekonomi membuatnya tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Di usia yang seharusnya masih bersemangat menempuh pendidikan di sekolah menengah pertama, ia justru harus merantau setelah lulus kelas enam SD. Rima sangat terpukul oleh kenyataan pahit yang menimpanya. Cita-cita yang sejak dulu ia bangun harus terkubur dalam-dalam. Tak terhitung berapa banyak air mata yang membasahi pipinya.
Di usia yang masih begitu muda, Rima diharuskan bekerja karena keluarganya tidak lagi memiliki penopang ekonomi. Di balik pahitnya kenyataan, ia berusaha melupakan keinginannya sendiri. Seluruh fokusnya ia berikan untuk orang tua serta adik-adiknya. Jika bukan dia, tidak ada lagi yang bisa bekerja. Rima sangat berharap adik-adiknya dapat bersekolah dengan baik dari biaya yang ia hasilkan. Ia tidak rela jika nasib adik-adiknya harus sama dengannya — memiliki cita-cita yang tak pernah tercapai.
Kebutuhan keluarga, mulai dari perbaikan rumah yang mulai reyot, kebutuhan sekolah adiknya, hingga kebutuhan sehari-hari, semuanya berasal dari jerih payah Rima. Selama ini banyak perbaikan rumah yang dilakukan keluarganya, dan semua itu tidak lepas dari biaya yang ia kirimkan. Pembiayaan sekolah adiknya dari SD hingga lulus pun, dialah yang berperan penting dalam setiap tagihan.
Saat mengingat masa lalu, ketika ia harus memutus pendidikan untuk merantau, Rima masih merasakan kesedihan yang sangat mendalam. Namun kini, setelah melihat keadaan keluarganya yang lebih baik, ia merasa bahagia karena dapat menjadi alasan tawa orang-orang yang ia sayangi. Rima selalu menyelipkan rasa syukur kepada Tuhan, karena ia diberi kebahagiaan meski bukan dari jalan yang dulu ia harapkan.
Penulis : Karini
Pimred: Moh. Kholis
Penanggung Jawab:( Nur Azizah) PU LPM ALIF