Aku selalu percaya bahwa cinta yang setia tidak akan pernah tersesat. Namaku Bari, dan kisah ini bermula dari keyakinan yang akhirnya runtuh di Selat Bali, tempat laut memisahkan pulau, dan takdir memisahkan hati.
Aku bertemu Alya pada suatu sore ketika langit Ketapang berwarna tembaga. Ia berdiri di dermaga, kerudungnya ditiup angin laut, matanya menatap jauh seolah sedang menunggu sesuatu yang bahkan ia sendiri tak tahu bentuknya. Sejak saat itu, aku tahu ada perasaan yang tak bisa dijelaskan, hanya bisa dirasakan.
Hubungan kami tumbuh perlahan, seperti ombak kecil yang tak pernah lelah menyentuh pantai. Kami saling percaya, saling menjaga, dan saling berjanji tanpa pernah menuliskannya. Alya adalah rumah bagiku, dan aku adalah pulang baginya.
Kami sering duduk di pinggir selat, menghitung kapal yang menyeberang, sambil membayangkan masa depan yang sederhana.
Aku selalu berkata, "Jika suatu hari aku hilang, carilah aku di laut." Alya tertawa, lalu menjawab,
"Kalau cintamu hilang, aku akan menemukannya."
Hari-hari kami dipenuhi kesetiaan yang sunyi. Tak banyak drama, tak banyak tuntutan. Kami percaya bahwa cinta tidak perlu diumumkan, cukup dipertahankan. Aku mencintainya dengan cara yang paling jujur, menunggu dan tidak berpaling. Namun, waktu selalu punya cara kejam untuk menguji keyakinan. Alya mulai sering diam, senyumnya menipis, dan matanya tak lagi menatap laut bersamaku.
Aku bertanya, tapi ia selalu berkata, "Aku hanya lelah."
Aku tak tahu bahwa di balik lelah itu, ada keputusan yang sedang tumbuh. Keputusan yang tak melibatkanku, keputusan yang kelak menghapus namaku dari masa depannya.
Suatu pagi, pesan singkat itu datang seperti badai yang tak terdengar,
"Bari, aku menikah bulan depan." Tidak ada penjelasan, tidak ada alasan, hanya kalimat yang mematahkan dadaku perlahan.
Aku membaca pesan itu berkali-kali, berharap kata-katanya berubah. Tapi tidak. Alya benar-benar akan menjadi milik orang lain, sementara aku masih berdiri di tempat yang sama, menunggu janji yang tak pernah ditepati.
Kami bertemu terakhir kali di Selat Bali. Ia mengenakan gaun sederhana, dan aku membawa kesetiaan yang sudah tak berguna. Laut terlihat sama, tapi segalanya terasa asing.
"Aku tidak berhenti mencintaimu," katanya pelan. Kalimat itu lebih menyakitkan daripada kebohongan yang memanah dadaku. Sebab cinta tanpa keberanian hanyalah pengkhianatan yang dibungkus kejujuran.
Aku ingin marah, ingin menuduh, ingin memintanya bertahan. Tapi aku hanya diam. Aku tahu, ada pertempuran yang tak bisa dimenangkan dengan kesetiaan saja.
Ketika kapal-kapal silih berganti melaju, aku melihat bayanganku di air. Aku bertanya pada diriku sendiri; kapan cintaku mulai hilang? Apakah saat ia memilih yang lain, atau saat aku terlalu percaya?
Alya melambaikan tangan, dan aku membalasnya dengan senyum yang kupaksakan. Di dadaku, ada laut yang bergemuruh, ada tangis yang tak pernah menemukan suara.
Sejak hari itu, aku sering kembali ke Selat Bali sendirian. Aku duduk di tempat yang sama, mendengarkan ombak menceritakan kisah yang tak pernah selesai. Aku menyadari bahwa cinta tidak selalu pergi karena mati. Kadang ia hanya tenggelam pelan, sunyi, tanpa jejak. Orang-orang bilang waktu akan menyembuhkan. Tapi bagiku, waktu hanya mengajarkan cara hidup dengan kehilangan.
Cinta itu tidak hilang, hanya tak lagi punya tempat pulang. Kini, setiap kapal yang menyeberang selalu membuatku bertanya; apakah cintaku ikut menumpang, mencari pantai lain yang tak meluka?
Nama Alya masih hidup dalam doaku, tapi tidak lagi dalam harapanku. Aku mencintainya, namun tidak lagi menunggunya.
Di Selat Bali, aku belajar bahwa kesetiaan tidak menjamin akhir bahagia. Kadang, ia hanya membuat perpisahan terasa lebih dalam.
Dan jika suatu hari seseorang bertanya kapan cintaku hilang, aku akan menjawab; ia tidak hilang, ia tinggal selamanya di laut, bersama namanya yang tak lagi bisa kusebut dengan bahagia dan wajahnya sebagai tombak derita.
Penulis: Hayyul MB
Pimred: M. Kholis
Penanggung Jawab: N.A ( PU LPM ALIF )